Hot!

Bolehkah Seorang Wanita Menikahkan Dirinya Sendiri


Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya: “Telah sampai pada saya bahwa ada seorang wanita Australia yang menikah tanpa wali, tidak disebutkan berapa maharnya dan tidak disaksikan kecuali oleh dua orang yaitu seorang laki-laki muslim dan seorang wanita Nashrani ibunda mempelai wanita. Di dalam proses akad disaksikan oleh taman-temannya serta wanita pencatat perkawinan yang kristen pula. Setelah dua tahun dari masa pernikahan wanita tersebut masuk Islam dan dikarunia dua anak. Ia bertanya tentang sah tidaknya pernikahan tersebut dan bila tidak sah, apa yang harus dilakukannya dan bagaimana shalatnya karena ia tidak menguasai kecuali bahasa Inggris?”

Jawaban:

Akad nikah yang telah disebutkan di atas hukumnya tidak sah karena tidak ada wali dan dua orang saksi, padahal Rasulullah Saw bersabda:

لا نكاح إلا بولي و شاهدي عدل

“Tidak (sah akad) nikah tanpa wali dan dua orang saksi”


Dan jika mahar tidak disebutkan pada saat akad nikah, maka belum hala. Adapun cara untuk membenarkan kembali akad nikah, yaitu dengan mengadakan pernikahan baru di hadapan pihak yang terkait dan dilakukan akad nikah setelah keduanya bersedia dan rela. Seandainya tidak bisa menghadirkan wali, maka harus menggunakan wali hakim yang diberi wewenang untuk menikahkan. Tentang yang telah terjadi masa lalu semuanya tidak dianggap dosa dan kesalahan, dan kedudukan anak-anaknya sah menurut syari’at dan nasabnya tetap dinisbatkan kepada bapak mereka, dengan syarat jika selama ini keduanya meyakini bahwa pernikahan tersebut sah, sebab hal ini termasuk senggama syubhat. Mengenai shalatnya, sang istri harus secepatnya belajar membaca Al-fatihah dan Dzikir-dzikir yang wajib dibaca dalam shalat.

Referensi: Kitab Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dkk, Darul Haq, Cetakan Ketiga, Hal: 80-81