Hot!

Berkurban untuk Muslim Palestina dan Suriah: Boleh, Tidak Boleh, atau Lebih Utama?


Sameeh.net – Seorang muslim yang peduli terhadap saudaranya pasti memiliki jiwa yang kuat untuk peduli sesama saudara seiman. Dalam kondisi apa pun ia selalu ingat saudaranya, baik dekat maupun jauh. Ya, karena ia sadar betul bahwa muslim satu sama lain adalah satu tubuh, bila salah satu terluka maka ia pun ikut merasakannya.

Jiwa dan kesadaran yang kuat itu membuatnya selalu berpikir apa yang dilakukan untuk menolong saudaranya. Ketika ia hendak berbuat, maka ia pun berpikir apa dasar perbuatannya hingga menjadi amal yang saleh dan berguna di dunia dan akhirat. Ya, karena ilmu mendahului amal.

Bertepatan dengan hari raya Idul Adha yang dirayakan dengan menyembelih hewan kurban, bagi yang tidak menunaikan ibadah haji, banyak lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan yang menawarkan kurban di wilayah lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Saat saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Somalia, Burma dan lainnya mengalami penderitaan dan kekurangan, mungkin Anda berpikir untuk menyalurkan hewan kurban di sana. Maka dalam hal ini, ada beberapa hal yang Anda perlu ketahui secara ilmiah sebelum memutuskan.

Kegiatan salah satu lembaga kemanusian untuk Suriah pada Idul Adha 1434 lalu di Idlib
Pertama, ulama menjelaskan bahwa orang yang berkurban lebih utama bila ia sendiri yang menyembelih binatang kurbannya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik Radliallahu anhu:

أن النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam menyembelih dua ekor domba yang amat gemuk maka aku melihat beliau meletakkan kaki beliau yang mulia pada lambung domba tadi seraya mengucapkan basmalah dan bertakbir lalu menyembelih keduanya dengan tangan beliau yang mulia.” Hadits Riwayat Bukhari ( 5558 ) dan Muslim ( 1966 ).

Namun, diperbolehkan mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya kepada orang lain meskipun ia tidak memiliki uzur yang berarti. Sebagaimana riwayat Jabir bin Abdullah:

أن النبي صلى الله عليه وسلم:.. نَحَرَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ بِيَدِهِ ثُمَّ أَعْطَى عَلِيًّا فَنَحَرَ مَا غَبَر

“Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah menyembelih hewan kurban sebanyak enam puluh tiga ekor dengan tangan beliau kemudian memberikan sisa hewan sembelihan kepada Ali Radliallahu Anhu.” Hadits Riwayat Muslim (1218 ).

Doktor Wahbah Az-Zuhaili Hafidhahullah berkata, “Sangat dianjurkan bagi orang yang ingin berkurban untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya jika dia memiliki kemampuan akan hal itu. Karena berkurban itu merupakan ibadah yang mengharap kedekatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka meniti jalan kedekatan tersebut secara langsung itu lebih utama daripada mewakilkannya kepada orang lain.

Namun jika tidak memiliki kemampuan yang baik dalam hal menyembelih memang ada baiknya diwakilkan kepada seorang muslim yang memiliki keahlian di bidang tersebut, dan sangat dianjurkan dia menyaksikan saat penyembelihan. Sebagaimana sabda Shallallahu alaihi Wasallam kepada Fatimah Radliallahu Anha:

يا فاطمة قومي إلى أضحيتك فاشهديها

“Wahai Fatimah bangkitlah dan saksikanlah hewan sembelihanmu.”

Semua imam madzhab yang empat sepakat akan hal ini. (Lihat Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/273).

Adapun berkurban di luar negara maka tentang hal ini terdapat perbedaan pendapat beberapa ulama’. Dalam sumber yang sama (4/282) Dr. Wahbah Az-Zuhaili berkata, “Adapun penyembelihannya di negara lain, Al-Hanafiyyah berkata: Makruh hukumnya mengirim hewan sembelihan keluar negara, kecuali jika mengirimkan kepada kerabatnya, atau kepada sekelompok komunitas orang yang sangat membutuhkan dibanding orang yang tinggal di negara itu, walau harus dikirim ke negara lain, hal ini tetap diperbolehkan dan mendapatkan pahala meskipun makruh hukumnya.

Al-Malikiyyah berpendapat: tidak boleh mengirimkannya ke daerah yang melebihi batas diperbolehkannya mengqashar shalat, kecuali penduduk daerah tersebut sangat membutuhkan daripada penduduk daerah atau negara yang berkurban, maka wajib mengirimkan hewan kurban ke daerah atau negara yang membutuhkan tersebut lebih banyak, dan menyisakan sedikit bagi penduduk negara atau daerah yang berkurban.

Al-Hanabilah dan As-Syafi’iyyah berpendapat sama dengan pendapat Al Malikiyyah: Diperbolehkan mengirimkannya ke negara atau daerah yang jaraknya kurang dari jarak diperbolehkannya mengqashar shalat, dari negara yang terdapat harta atau hewan kurban, dan diharamkan mengirimkan binatang sembelihan sebagaimana zakat, ke negara yang jaraknya sepadan dengan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat atau melampaui batas tersebut..”.

Para Ulama modern sepakat memilih pendapat tentang diperbolehkannya menyalurkan hewan kurban ke negara yang kaum musliminnya sangat membutuhkan bantuan.

Syaikh Ibnu Jibriin Rahimahullah ditanya tentang lembaga-lembaga yang mengelola uang orang yang hendak berkurban, lalu membelikan hewan kurban di tempat pelaksanaan penyembelihan untuk disembelih pada saat hari raya kurban, lalu dibagikan kepada kaum muslimin yang miskin di luar negeri, beliau membolehkannya. Alasan beliau adalah:

Memberikan kegembiraan kepada mereka pada hari raya.
Orang Saudi banyak yang kaya dan setiap orang berkurban, sehingga banyak daging menumpuk dan disimpan sampai berbulan-bulan.
Ketika ditanya tentang mengirimkan daging-daging kurban dari kerajaan Saudi Arabia kepada mereka yang membutuhkan dan terbelit kefakiran, semisal negara Bosnia Herzegovina, Sudan, negara–negara miskin di Afrika dan negara-negara Islam yang lain di mana mereka sangat darurat akan kebutuhan bantuan tersebut, Syaikh Ibnu Jibrin menjawab:

“… apabila di tempat atau di negara yang Anda tinggal termasuk kategori negara yang makmur yang tidak terdapat satu pun orang yang fakir, yang seumpama Anda memberikan daging kurban ke sebagian mereka, maka mereka akan menyimpannya selama berhari-hari karena mereka sudah memiliki daging yang melimpah sepanjang tahun, dengan alasan ini maka diperbolehkan mengirimkan daging-daging kurban kepada mereka yang membutuhkannya di negara-negara yang fakir, yang mereka jarang sekali mengonsumsi daging melainkan sangat langka. Dengan kondisi seperti ini maka wajib bagi orang yang berkurban menyalurkan hewan kurbannya kepada mereka pada saat hari raya kurban dengan umur hewan kurban yang sudah mencukupi, selamat dari cacat yang menjadikan tidak sahnya hewan kurban serta terealisasinya amanah bagi orang mendapatkan tugas pendistribusian hewan kurban tersebut. Wallahu a’lam.”

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Dr. Nashir Al-Umar hafidhahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa yang berkurban di antara kalian, maka jangan sekali-kali ia menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari.” Tatkala datang tahun depan, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami juga harus melakukan sebagaimana apa yang telah kami lakukan pada tahun lalu?’ Beliau menjawab, ‘Makanlah oleh kalian, berikan makan keluarga kalian dan simpanlah (dari daging kurban kalian). Orang-orang sangat kesulitan dan membutuhkan bantuan pada tahun lalu (sehingga beliau melarang menyimpan daging lebih dari tiga hari) dan aku menginginkan kalian ikut andil dalam membantu mereka.”

Rasulullah ketika melihat kesulitan yang dialami umat manusia, beliau mengharamkan menyimpan daging kurban melebihi tiga hari, maka tatkala inti permasalahan umat itu hilang, hilang pula pengharaman dan pelarangan itu.

Dengan demikian kita tidak mendapati adanya penghalang dan hambatan atas bolehnya mengalihkan hewan kurban dari satu negara ke negara lain, jika memang kebutuhan kaum muslimin menuntut untuk itu.

Betapa sangat besar jumlah kaum muslimin saat ini yang mereka tidur beralaskan bumi dan berselimutkan langit. Mereka meregang menahan lapar, nyawa mereka hilang karena kelaparan dan mereka sangat membutuhkan bantuan untuk menghentikan penderitaan mereka dengan mendistribusikan zakat dan sedekah kepada mereka. Mengirimkan serta mengalihkan hewan kurban ke negara mereka.

Hewan kurban itu tidak harus disembelih di negara orang yang berkurban. Meskipun sunnah memakan hewan kurban terlewatkan, kemaslahatan yang diperoleh dari mengentaskan dan menolong fakir miskin kaum muslimin dari keterpurukan mereka dan menutupi kebutuhan mereka terwujud. Wallahu a’lam.

Semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah ke hadirat Nabi kita Muhammad serta keluarga dan para sahabat–sahabat beliau.

Sumber: www.kiblat.net