Hot!

5 Jalan Pembisnis Sejati


Sameeh.net - Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas tentang jalan yang harus ditempuh bagi pembisnis. Ya tentunya pembisnis sejati, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Mari kita simak bersama apa saja jalannya:

1. Jalan Mengukuhkan Persaudaraan
Pesan Kearifan Rasulullah Saw:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi  Muslim yang lain, dia tidak boleh menzhaliminya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bisnis sebenarnya bisa menjadi lahan persaudaraan. Bisnis membuat seorang bergerak dinamis sehingga bisa menebar jaringan perkenalan, bahkan persaudaraan. Kompetitor bisnis bukanlah musuh yang harus dibinaskan, melainkan teman-teman yang harus digandeng untuk membangun kekuatan bersama.

Seandainya terjadi suatu kekuatan dan jaringan antar sesama Muslim dalam bisnis dengan semangat persaudaraan, niscaya kaum Muslimin akan bangkit secara ekonomi. Seandainya muncul semangat persaudaraan dan kesadaran akan kehalalan serta kebaikan, niscaya lembaga keuangan seperti penbankan Syariah dan asuransi Syariah bisa meleset jauh berkembang meninggalkan lembaga-lembaga konvesional yang berbau riba.

Nabi Muhammad Saw. Mengingatkan bahwa bisnis adalah jalan untuk mengukuhkan silaturrahmi dan bukan sebaliknya. Tidak diperkenankan seorang Muslim menzhalimi Muslim lainnya hanya karena persoalan ingin menang dalam persaingan bisnis. Selain itu, tidak diperkenankan pula seorang Muslim mempersulit Muslim lainnya dalam segala urusan.

2. Jalan Menetapkan Visi Mulia
Pesan Kearifan Rasulullah Saw:
“Barangsiapa yang menjadikan dunia ini sebagai satu-satunya tujuan akhir (yang utama), niscaya Allah akan menyibukkan dia dengan urusan dunia itu, Allah akan membuatnya miskin seketika, dan ia akan dicatat (ditakdirkan) merana di dunia ini. Namun, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akhirnya, maka Allah akan mengumpulkan teman-teman untuknya dan Allah akan membuat hatinya kaya, dunia akan takluk dan menyerak kepadanya.”(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Luar biasa visi yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada seorang pembisnis. Visi ini menembus batas langit menjangkau masa yang tak terbayangkan. Itulah visi akhirat sebagai tujuan manusia di dunia ini.

Jangan pernah ragu untuk menetapkan visi akhirat sehingga Allah ridha dan Dia mengumpulkan teman-teman untuk kita. Lalu dikayakan hati kita dari khawatir, hasad dan dengki, serta dari keserakahan. Alhasil, dunia pun dapat ditundukkan.

Pembisnis dengan basis spiritual memang tempat bergantungnya hanyalah kepada Allah Swt. Dia tidak bergantung pada makhluk, apalagi pada dunia karena sang pembisnis memiliki sebaik-baik backing yaitu Allah Swt.

3. Jalan Melahirkan Kepercayaan
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Ia tidak boleh menjahilinya dengan tindakan bodoh dan hendaklah ia senantiasa memeliharanya dari arah belakang.”(HR. Abu Dawud).

Seorang Muslim yang berniat berbisnis memang perlu membangun apa yang disebut Personal Branding. Pakar marketing, Hermawan Kartajaya, menyebut bahwa Personal Branding dibangun dengan tiga unsur, yaitu POSI-TIONING-DIFFERENTIATION-BRAND (PDB).

Hal pertama, seorang Muslim harus memiliki Positioning dirinya dengan menujukkan bawha dirinya adalah seorang Muslim.

Hal kedua adalah perbedaan bahwa setiap orang diciptakan Allah Swt dengan kelebihan dan keunikan tersendiri. Dalam membangun imej dirinya, seorang Muslim memang perlu mendapatkan ciri khas.

Hal ketiga adalah brand atau mereka diri. Perhatikan beberapa da’i atau ustadz yang kini juga menggunakan brand untuk mengusung suatu dakwah tertentu. Seperti ustadz Yusuf Manshur yang mengusung brand sedekah (the power of giving).

Personal Branding yang baik dan positif tentu akan melahirkan kepercayaan dan kepercayaan menghasilkan teladan. Steven Covey menyebutkan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang melebihi kecepatan sebuah trust atau kepercayaan. Saling percaya antar sesama pembisnis membuat keputusan lebih cepat diambil karena keduanya pun akan saling melindungi.

4. Jalan Menguatkan Empati
“Janganlah enkau menampakkan kegembiraan atas mesibah yang menimpa saudaramu, sebab bisa jadi Allah merahmatinya dan menimpakan bala atasmu.”(HR. Tirmidzi).

Saat orang lain terpuruk, rasanya perlu seorang pembisnis berempati dengan jalan memberikan bantuan ataupun dukungan, baik moral maupun materil. Kita tentu tidak tahu bahwa sebenarnya orang tersebut sedang dirahmati oleh Allah atas musibahnya dan datangnya pertolongan dengan meminjam tangan kita. Alhasil, kita pun berada dalam lingkaran rahmat Allah Swt.

Bisnis harus diikuti oleh empati untuk saat ini dan masa mendatang. Tanpa empati, tidak akan ada simpati. Tanpa simpati meskipun hidup bergelimang uang, akan terasa seperti di neraka karena seseorang selalu curiga dengan orang lain dan selalu merasa tidak tenang dengan harta dan bisnisnya. Alhasil, Allah benar-benar menyibukkannya dengan urusan bisnis sehingga lupa urusan-urusan yang mengundang kebahagiaan, terutama dalam berhubungan dengan Allah Swt.

5. Jalan Mempersatukan
Dari Abu Hurairah Ra. Nabi Saw bersabda: “Berdua lebih baik daripada sendiri. Bertiga lebih baik daripada berdua. Berempat lebih baik daripada bertiga. Hendaklah kamu sekalian berjamaan karena sesungguhnya tangan Allah bersama orang yang berjamaah.”(HR. Ibnu ‘Asakir).

Untuk itu, berbisnis secara berjamaah sangat baik. Akan tetapi, lebih baik lagi jika seorang pembisnis pun benar-benar membuat persiapan (prepare) yang matang dalam memilih rekan bisnis. Banyak yang justru terjadi bahwa bisnis malah menghancurkan hubungan keluarga dan bisnis menghancurkan hubungan pertemanan. Dalam hal ini adalah bijak untuk membuat akad bisnis yang jelas dan transparan berikut komitmen-komitmen sebelum memulai bisnis. Ada baiknya akad tersebut disahkan oleh notaris dan beberapa orang saksi. Wallahu’alam.

Oleh: Muhammad Husni Haikal (diringkas dari buku Business Wisdom of Muhammad Saw).