Hot!

Biografi Imam Asy-Syafi'i


Nama dan Nasab Beliau
                Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib, Abu Abdillah al-Quraisyi asy-Syafi’i al Makki, keluarga dekat Rasulullah dan putera pamannya.

                Al-Muththalib adalah saudara Hasyim, yang merupakan ayah dari Abdul Muththalib, kakek Rasulullah dan Imam asy-Syafi’i berkumpul (betemu nasabnya) dengan Rasulullah pada Abdil Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga.

                Imam Nawawi berkata: “Imam asy-Syafi’i adalah Quraysyi (berasal dari suku Quraisy) dan Muththalibi (keturunan Muthalib) berdasarkan ijma’ para ahli riwayat dari semua golongan, sedangkan ibunya berasal dari suku Azdiyah.

Tahun dan Tempat Kelahiran Beliau
                Para sejarawan telah sepakat, bahwa Imam asy-Syafi’i lahir pada tahun 150 H, yang merupakan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah.

                Ibnu Hajar berkata: “Bahwa Imam asy-Syafi’i dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di ‘Asqalan. Ketika memasui usia dua tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang Yaman, karena ibunya dari suku Azdiyah. Ketika Imam asy-Syafi’i berumur 10 tahun, ia dibawa oleh ibunya ke Mekkah, karena ibunya khawatir nasab (keturunannya) yang mulia itu lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhan dan Kegiatannya Dalam Mencari Ilmu
                Imam asy-Syafi’i begitu tekun dalam belajar, sehingga ia hafal al-Quran dalam usia 7 tahun dan kitab al-Muwattha’ (karya Imam Malik) dalam usia 10 tahun. Pada saat ia berusia 15 tahun (ada yang mengatakan 18 tahun), Imam asy-Syafi’i sudah berfatwa setelah mendapat izin dari syaihknya yang bernama Muslim bin az-Zanji.

                Setelah Imam asy-Syafi’i hafal al-Quran al-Karim di Makkah, beliau senang kepada Sya’ir dan bahasa, sehingga ia selalu bolak-balik ke suku Hudzail untuk menghafal Syair-Syair mereka sejak kecil. Yang mendorongnya untuk mendalami fiqih adalah ketika Imam asy-Syafi’i pergi dengan menaiki seekor binatang, ia membaca bait-bait syair. Mendengar bacaan itu, maka berkata kepadanya sekretaris orang tuanya, Mish’ab bin Abdullah az-Zubaidi: “Orang seperti kamu jika menjadi penyair akan hilang perangainya sebagai menusia, kecuali engkau belajar fiqih.” Maka Imam as-Syafi’i terusik hatinya untuk mendalami fiqih, lalu ia mendatangi Muslim bin Khalid az-Zanji seorang mufti Makkah dan berguru kepadanya. Setelah itu, Imam asy-Syafi’i pergi ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik.

Wafatnya Beliau
                Di akhir hayatnya, Imam asy-Syafi’i sibuk berdakwah, menyebarkan ilmu, dan mengarang di Mesir, sampai hal itu memberikan mudharat pada tubuhnya, maka ia pun terkena penyakit wasir yang menyebabkan keluarnya darah. Tetapi karena kecintaanya terhadap ilmu, Imam asy-Syafi’i tetap  melakukan pekerjaannya itu dengan tidak memperdulikan sakit yang sedang ia alami, sampai akhirnya beliau wafat pada akhir bulan Rajab tahun 204 H -semoga Allah memberikan rahmat yang luas kepadanya-.

                Beliau banyak meninggalkan karangan di antara karangan beliau adalah: kitab al-Umm, ar-Risalah al-Jadidah, al-Musnad, as-Sunan, ar-Raad’ala al-bahimah, Mihnatul asy-Syafi’i, Ahkam al-Quran dan yang lainnya, sebagiannya lenyap dan sebagian lagi dihimpun oleh beberapa orang dari kalangan asy-Syafi’iyyah.