Hot!

Biografi Ibnu Hajar Al-Atsqalani


Pada akhir abad ke 8 H dan pertengahan abad ke 9 H merupakan era keemasan bagi para ulama.Pada masa ini banyak di dirikan madrasah-madrasah ,perpustakaan dan halaqah-halaqah ilmu.Keguncangan sosial tidak meyurutkan para ulama untuk menghasilkan karya-karya ilmiyah. Hal ini dikarenakan para penguasa di masa itu memberikan perhatian besar dalam hal mengembangkan madrasah-madrasah,perpustakaan dan memotivasi para ulama untuk berlomba-lomba dalam menghasilkan karya ilmiah dari berbagai bidang keilmuwan.Pada masa ini pula muncul seorang ulama besar yaitu Al Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.Berikut biografi kehidupan beliau :
1. Nama Beliau
Beliau adalah al Imam al ‘Allamah al Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar. 

2. Kelahiran Beliau
Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Sya’ban ,tahun 773 H bertempat di pinggiran Sungai Nil di negeri Mesir Kuno.Tempat tersebut dekat dengan Dar An-Nuhas dekat masjid Al-Jadid.Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu,karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi,kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau berumur 4 tahun.
Ketika wafat bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih kecil .Dua orang tersebut adalah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qhathtahn al Mishri.

3. Gelar dan Kunyah Beliau
Beliau termasuk salah seorang ulama yang bermadzhab Syafi’i.Digelari dengan Ketua Para Qadhi,Syaikhul Islam ,Hafidz Al-Muthlaq ,Amirul Mu’minin ( dalam bidang hadits ).Beliau di juluki Syihabuddin dengan nama panggilan ( Kunyah ) Abu Al-Fadhl.Beliau juga di kenal dengan nama Abul Hasan Ali dan lebih terkenal dengan nama Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi’i.

4. Sifat Beliau 
Ibnu Hajar adalah seorang yang mempunyai ketinggian sederhana, berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat janggutnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. Beliau adalah seorang yang memiliki pendengaran dan penglihatan yang sihat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya, bercita-cita tinggi, kurus badannya, fasih lisannya,  sangat cerdas, pandai, pintar bersyair dan merupakan seorang pemimpin zamannya.

5. Perjalan Beliau Dalam Menuntut Ilmu
Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I’rab.
Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:
1.Dua tanah Haram ,yaitu Makkah dan Madinah
Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H.Yaitu pada umur 12 tahun .Beliau mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits ( ahli hadits ) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.
2.Damasyq ( Damaskus )
Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al Bulqini.
3.Baitul Maqdis
Termasuk sebagian kota-kota palestina seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat dari mereka.
4.Shana’
Serta beberapa kota di yaman dan menimba ilmu dari mereka.
Dengan ilmu yang dimilikinya, Ibnu Hajar ditawari untuk mengajar di Syaikuniyah, madrasah Jamalia, dan al-Mankutimuriyah. Ia mulai mengajar hadits dan ilmu hadits pada bulan Syawal 808 H atau Maret 1406 M. Selain itu karena kedalamannya dalam ilmu fiqh, ia pun diangkat menjadi qadhi atau hakim, jabatan yang dipegangnya selama 20 tahun.

6. Guru-Guru Beliau
Al-Hafizh Ibnu Hajar sangat memperhatikan para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:
1. Al-Mu’jam Al-Muassis lil Mu’jam Al-Mufahris
2. Al-Mu’jam Al-Mufahris.
Imam As-Shakhaawi membagi guru Beliau menjadi 3 klarifikasi ,yaitu :
1.Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun satu hadits
2.Guru yang memberikan ijazah kepada beliau
3.Guru yang beliau ambil ilmunya dengan cara mudzakarah atau mendengarkan khutbahnya   atau membaca karya ilmiahnya.
Guru beliau mencapai lebih dari 640an orang, sedangkan Ibnu Khalil Ad-Dimasyqi dalam kitab Jumaan Ad-Durar membagi para guru beliau dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang.Dalam kesempatan ini kami hanya menyampaikan beberapa saja dari mereka  yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan beliau.
Diantara guru beliau adalah :
I.Bidang Keilmuan Al-Qira’aat ( ilmu Al-Quran )
Syeikh Ibrahim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwaan At-Tanukhi Al-Ba’li Ad-Dimasyqi (wafat tahun 800 H.) dikenal dengan Burhanuddin Asy-Syaami. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian Alquran, kitab Asy-Syathibiyah, Shahih Al-Bukhari dan sebagian musnad dan Juz Al-Hadits. Syeikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.

II.Bidang Ilmu Fiqih 
1. Syeikh Abu Hafsh Sirajuddin Umar bin Ruslaan bin Nushair bin Shalih Al-Kinaani Al-‘Asqalani Al-Bulqini  Al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, haafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiah, diantaranya: Mahaasin Al-Ish-thilaah Fi Al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala Ar-Raudhah serta lainnya.
2. Syeikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah Al-Anshari Al-Andalusi Al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu Al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: Al-I’laam Bi Fawaa`id ‘Umdah Al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) danTakhrij ahaadits Ar-Raafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan Syarah Shahih Al-Bukhari dalam 20 jilid.
3.Burhanuddin Abu Muhammad Ibrahim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnaasi ( 725-782 ).
III.Bidang Ilmu Ushul Fiqih
Syeikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah Al-Kinaani Al-Hamwi Al-Mishri (Wafat tahun 819 H.) dikenal dengan Ibnu Jama’ah seorangfaqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar Mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H. sampai 819 H.
IV.Bidang Ilmu Sastra Arab
1. Majduddin Abu Thaahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar  Asy-Syairazi Al-Fairuzabadi (729-827 H.). seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
2. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazaaq Al-Ghumaari (720 -802 H.)
V.Bidang Hadits dan Ilmunya
1. Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrahim Al-Mahraani Al-Iraqi (725-806 H ).
2. Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaimanbin Abu Bakar bin Umar bin Shalih Al-Haitsami (735 -807 H.)
VI.Guru-Guru Beliau yang lain 
1. Al-Iraqi, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits
2. Al-Haitsami, seorang yang paling hafal tentang matan-matan
3. Al-Ghimari, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab
4. A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
5. Al-Ghifari, seorang yang hebat hafalannya.
6.Al-Abnasi ,seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
7.Al-Izzu bin Jamaah,seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
8.At-Tanukhi,seorang yang terkenal dengan qira’aatnya dan ketinggian sanadnya dalam qira’at.

7. Murid-Murid Beliau
Kedudukan dan ilmu beliau yang sangat luas dan dalam tentunya menjadi perhatian para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka berlomba-lomba mengarungi lautan dan daratan untuk dapat mengambil ilmu dari sang ulama ini. Oleh karena itu tercatat lebih dari lima ratus murid beliau sebagaimana disampaikan murid beliau imam As-Sakhawi.
Di antara murid beliau yang terkenal adalah :
1. Syeikh Ibrahim bin Ali bin Asy-Syeikh bin Burhanuddin bin Zhahiirah Al-Makki Asy-Syafi’i (wafat tahun 891 H.)
2. Syeikh Ahmad bin Utsmaan bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karmaani Al-hanafi (wafat tahun 835 H.) dikenal dengan Syihabuddin Abul Fathi Al-Kalutaani seorang Muhaddits.
3. Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan Al-Anshari Al-Khazraji (wafat tahun 875 H.) yang dikenal dengan Al-Hijaazi.
4.Zakariya bin Muhammad bin Zakariya Al-Anshari wafat tahun 926 H.
5. Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsmaan As-Sakhaawi Asy-Syafi’i wafat tahun 902 H .
6. Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd Al-Hasyimi Al-‘Alawi Al-Makki  wafat tahun 871 H.
7.Burhanuddin Al-Baqi’ penulis kitab Nudzhum Ad-Dhurarfi Tanasub Al-Ayi wa As-Suwar
8.Ibnu Al-Haidhari
9.Al-Kamal bin Al-Hamam Al-Hanafi
10.Qashim bin Quthlubhugha
11.Ibnu Taghri Bardi,penulis kitab Al-Manhal Ash-Shafi.
12.Ibnu Quzni
13.Abul Fahd bin Asy-Syihah.
14.Al-Muhib Al-Bakri
15.Ibnu Ash-Sharafi.
Dan masih banyak murid beliau yang tidak mungkin kami sebutkan semuanya.

8. Mengemban Tugas Sebagai Hakim
Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu’, hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara’ (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari untuk menjabat sebagai hakim.
Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashadr al Munawi, menawarkan kepada al Hafizh untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman. Kemudian, Sulthan al Muayyad Rahimahullah menyerahkan kehakiman dalam perkara yang khusus kepada Ibnu Hajar Rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin al Bulqani Rahimahullah mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.
Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa’idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri. Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira, karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833 H.
Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.
Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung. Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi’uts Tsani 852 H, tahun beliau wafat.

9. Karya-Karya Beliau
Diantara karya-karya ilmiah beliau yang terkenal adalah sebagai berikut :
1.Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
2.An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
3.Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
4.Taghliq At-Ta’liq.
5.At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
6.Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
7.Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
8.Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
9.Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
10.Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
11.Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
12.Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
13.Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
14.Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
15.Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
16.Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
17.Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
18.Taqrib At-Tahdzib.
19.Tahdzib At-Tahdzib.
20.Lisan Al-Mizan.
21.Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
22.Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
23.Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
24.Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
25.Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
26.Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

10. Wafat Beliau
Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar jatuh sakit dirumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jamadal Akhir tahun 852 H. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika ia sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.” Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla’. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadhi bolak balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Imam As-Sakhaawi berkata, “Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakittha’un telah muncul.  Kemudian pada malam sabtu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 852 H. berselang dua jam setelah shalat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.

Oleh: Muhammad Husni Haikal