Hot!

Other News

More news for your entertainment

Mengenakan Cadar Ketika Shalat




Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah

Sameeh.net - 

Pertanyaan:

Sekarang bnyk akhwat yg sholat tidak membuka cadar dengan alasan kerena tempat terbuka banyak laki-laki yang lewat, tapi juga ada an diatas tempat kusus akhwat dan tidak ada laki-laki yang lewat tetep tidak mau buka cadarnya dalam sholat, bagaimana hukumnya? Tolong dibahas aturannya ustadz.

Dan bagaimana hukum memakai kaos tangan ketika shalat?

Jawaban:

Orang yang shalat hendaknya membuka wajahnya, baik laki-laki maupun perempuan, karena salah satu anggota sujud terdapat di wajah, yaitu dahi dan hidung. Sebagaimana hadist Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

_“Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), kedua telapak tangan, kedua lutut kaki, dan jari jari kedua kaki"_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadist di atas disimpulkan bahwa laki-laki yang menutup wajahnya atau wanita yang mengenakan cadar ketika shalat hukumnya makruh, sebagaimana disebutkan oleh banyak ulama, diantaranya Imam An Nawawi dalam kitab Al-Majmu' dan Al Bahuti dalam Kasysyafu Al-Qina'.

Walaupun begitu shalat nya masih di anggap sah.

Bagaimana jika di suatu masjid terdapat banyak laki-laki yang lewat? 

Jawabannya dibolehkan dalam keadaan seperti ini shalat mengenakan cadar karena darurat. Jika laki-laki sudah lewat hendaknya cadarnya dibuka kembali.

Adapun hukum memakai kaos tangan ketika shalat, para ulama berbeda pendapat; sebagian mereka seperti Hanabilah mewajibkan untuk menutup kedua tangan, tetapi ulama yang lain membolehkan untuk dibuka, dan pendapat ini yang lebih tepat.

Wallahu A'lam 

Meneladani Kedermawanan Abu Bakar Ash-Shiddiq



Dalam segala amal kebaikan seorang hamba membutuhkan sosok teladan yang dapat dijadikan contoh. Sosok tersebut akan memberikan kepadanya gambaran amal yang semestinya dikerjakan. Sebab dengan melihat contoh, seseorang akan lebih mudah melakukan amal. Sebagaimana telah kita ketahui, tidak ada teladan yang lebih baik dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Karena sesungguhnya umat ini akan baik jika mengikuti jalan-jalan kebaikan yang pernah ditempuh salaf mereka. 

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik,

“Tidak akan baik perkara akhir umat ini melainkan dengan sesuatu yang telah membuat baik generasi pertama umat ini.” (al-I’tisham, asy-Syathibi, I/111)

Berangkat dari kesadaran akan hal ini, kami akan sedikit memberikan gambaran kedermawanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Karena beliau adalah salah seorang sahabat yang paling pantas untuk dicontoh kebaikan-kebaikan amalnya. dengan harapan setelah mengetahuinya kita lebih semangat untuk mencontoh beliau.

Kesaksian Rasulullah Terhadap Abu Bakar

Sungguh besar kedermawanan Abu Bakar di jalan Allah. Ia merupakan sosok yang selalu terdepan dalam kebaikan. Beliau adalah seorang pedagang yang banyak harta, namun kedermawanan telah membuatnya mau menginfakkkan seluruh hartanya demi kepentingan dakwah dan membela agama Allah. Sungguh menakjubkan infak yang dilakukan oleh Abu Bakar.

Mengenai kedermawanan Abu Bakar ash-Shiddiq, maka tidak ada yang lebih berharga selain kesaksian Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam sendiri terhadapnya. Beliau pernah bersabda tentang Abu Bakar,

Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian lalu kalian mengatakan, ‘Kamu dusta!’ namun Abu Bakar mengatakan, ‘Kamu benar.’ Ia telah membantuku dengan nyawa dan hartanya, maka maukah kalian membiarkan sahabatku ini bersamaku.” Beliau mengucapkannya hingga dua kali, dan setelah itu Abu Bakar tidak pernah diganggu lagi. (HR. Bukhari, no.3661)

Beliau biasa membeli budak dan memerdekakannya, serta mengentaskan kemiskinan kaum dhu’afa’. Di samping itu, beliau juga menolong Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dengan segenap harta yang berada di tangannya. Dan Abu Bakar lah sebaik-baik pembantu bagi beliau. Ia letakkan harta berada di tangan bukan di hatinya.

Abu Bakar dan Umar Berlomba

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata,

“Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam pernah memerintahkan kami untuk bersedekah, dan ketika itu aku sedang memiliki harta, maka aku katakana dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, walaupun hanya mengalahkannya dalam sehari.’ Kemudian aku datang dengan setengah hartaku, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bertanya kepadaku, ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sebanyak ini juga.’ Kemudian Abu Bakar membawa seluruh hartanya, lalu beliau bertanya kepadanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ lantas ia menjawab, ‘Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian aku pun berkata, ‘Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu sampai kapan pun’.” (HR. Abu Dawud, no. 1678 dan Tirmidzi, no. 4038)

Kita bisa melihat Abu Bakar dan Umar berlomba-berlomba, dan persaingan keduanya dalam kedermawanan. Kita lihat pula kedermawanan Abu Bakar yang tidak ragu-ragu membawa seluruh hartanya demi infak membela Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.

Aisyah Radhiyyallahu anha berkata,

“Abu Bakar Radhiyyallahu anhu menginfakkan empat puluh ribu dirham untuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.” (HR. Ibnu Hibban, no.6859, dishahihkan Syaikh Syu’aib al-Arnauth)         

Abu Bakar ash-Shiddiq tidak segan-segan untuk menginfakkan harta yang sedemikian banyak, dan ia terus berderma hingga akhir hayatnya, bahkan pada waktu ia meninggalnya Aisyah berkata, “Ketika wafat ia tidak meninggalkan satu dinar atau dirham pun.” (Fathul Bari, IV/13)

Dalam kesempatan yang lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

Orang yang paling aku percaya persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, seandainya aku dapat mengambil kekasih tentu aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, namun yang ada adalah pesaudaran Islam dan saling mencintai karenanya.” (HR. Bukhari, no.466)

Mengapa Harus Abu Bakar?

Mengapa mesti Abu Bakar? Mungkin pertanyaan itu yang terbesit dalam benak kita. Jawabnya karena ia dermawan, rela mengorbankan jiwa dan harta demi Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam. Hingga beliau bersabda,

Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku melebihi harta Abu Bakar.”

Mendengar kata-kata ini Abu Bakar Radhiyallahu anhu menangis dan berkata, “Untuk siapa jiwa dan hartaku jika bukan untukmu.”(HR. Tirmidzi, no. 3661 & Ibnu Majah, no.94, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu adalah orang yang terdepan dalam bersedekah dan amal-amal shalih lainnya. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah bersabda:

'Siapa di antara kalian yang berpuasa pada hari ini? lalu Abu Bakar menjawab, 'Saya.' Kemudian beliau bertanya, 'Siapa di antara kalian yang mengantarkan mayit ke kuburnya? Abu Bakar menjawab, 'Saya.' Lalu beliau bertanya lagi, 'Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin?' Abu Bakar menjawab, 'Saya.' Kemudian beliau bertanya, 'Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit? lalu Abu Bakar menjawab, 'Saya.' Maka beliau  Shallallahu alaihi wa Sallam berkata, 'Jika semua perkara tersebut ada pada seseorang, maka dia akan masuk surga."' (HR. Muslim, III/92)

Berbagai kebaikan telah terkumpul dalam diri Abu Bakar Ash-Shiddiq sehingga layak jika ia dibukakan pintu-pintu surga, dan dipersilahkan masuk melalui pintu mana saja yang ia inginkan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, 'Barang siapa bersedekah dengan sepasang hewan dijalan Allah, maka akan dipanggil ke surga, 'Wahai hamba Allah ini adalah baik."' Jika ia ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalatnya, jika ia seorang mujahid maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia orang yang gemar bershadaqah akan dipanggil dari pintu sedekahnya, jika ia orang yang gemar berpuasa maka akan dipanggil dari pintu Rayyan.'" Lalu Abu Bakar bertanya, Tidak ada seorangpun yang dipanggil dari pintu-pintu tersebut kecuali suatu keharusan, apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu sekaligus?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka."' (HR. Muslim, 3/91)

Inilah yang telah dikorbankan sahabat terbaik Rasul dan keistimewaan-keistimewaan yang diperolehnya. Dengan mencermati kedermawanan ash-Shiddiq ini semoga kita mampu meneladaninya, dan memposisikan harta di tangan bukan di hati. Aamiin