Hot!

Other News

More news for your entertainment

Wajib Mendengar dan Taat Pada Pemimpin Meskipun Berhati Setan


Oleh: Maheer At-Thuwailibi

Sameeh.net -PAHAMI baik-baik dan baca dengan cermat. orang kalau sudah berjenggot, bergamis, atau bercelana cingkrang (diatas mata kaki), lalu ngomongnya pakai dalil qur'an dan hadits, apalagi ngomongnya di TV atau Radio tertentu; langsung dianggap sudah pasti benar, langsung dianggap ‘oh ini ahlus sunnah sejati’; sehingga kalau ada berbeda dengan yang disampaikannya ini, berarti ‘salah’ atau ‘sesat’. Demikianlah diantara fenomena keterpurukan intelektual yang sedang menimpa sebagian kaum muslimin dewasa ini. padahal, kebenaran itu bukan sekedar di ukur dengan yang namanya DALIL, tetapi juga perlu ISTIDLAL (cara menggunakan dalil). Artinya, ketika dalil sudah benar, lalu bagaimana cara menggunakan dalil itu agar pemahaman dan pengamalan terhadap dalil itu juga benar. inilah garis lurus syari'at/manhaj salaf yang sesungguhnya. Kalau hanya terpesona dengan orang yang menyampaikan pakai dalil, maka syi'ah pun punya dalil, khawarij dan mu'tazilah juga punya dalil, kelompok sesat jabariyyah dan murji-ah pun juga pakai dalil. Lalu kenapa mereka tetap sesat? Ya, karena bukan dalil nya yang salah, melainkan cara mereka menggunakan dalil (ISTIDLAL) itulah yang salah sehingga menjadikan mereka sesat dan menyesatkan.

Thoyyib, mari kita bahas dengan cermat. segelintir orang memaksakan ummat ini untuk MENTAATI PEMIMPIN (PENGUASA) NON ISLAMI MESKIPUN BERHATI SETAN. dalilnya:

1=> Hadits dari ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ حبشي.

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah (memimlin) kalian adalah seorang hamba sahaya (budak hitam)”.

2=> Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, diriwayatkan Imam Muslim. Rasulullah bersabda, "Nanti setelahku ini akan ada seorang pemimpin yang tidak berpetunjuk dengan petunjukku (dalam teori) dan tidak pula bersunnah dengan sunnahku (dalam praktek). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada Al-MIR (pemimpin) itu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.”

-selesai-

Baik, kita bahas..

PERTAMA: DUA HADITS inilah yang sering menjadi dalil untuk dua hal: 1. Membenarkan adanya kepemimpinan NON SYARI’AT di muka bumi; 2. Mewajibkan mendengar dan taat kepada kepemimpinan itu, meskipun ia berhati setan, harta kita diambil, punggung kita dipukul.

Hadits-hadits ini selalu diulang-ulang oleh para penjilat penguasa (mulukiyyah/murji’ah gaya baru). tetapi anehnya, hadits-hadits tentang para syuhada' yang terbunuh melawan pemimpin zhalim tidak pernah mereka bahas? tidak pernah mereka dengang-dengungkan.!? Padahal sabda Nabi, “jihad yang paling afdhal adalah amar ma'ruf nahi munkar kepada pemimpin zalim”. ini juga kan hadits shahih, sebagaimana hadits-hadits yang mereka nukil diatas, dan itu di praktekkan oleh Salafus Shalih. tetapi kenapa tidak pernah mereka bahas? Disinilah letak standar ganda nya para penyembah muluk (penguasa) itu. Syari’at (Al-Qur’an & As-Sunnah) menjadi keset di bawah kaki mereka demi kekuasaan.

KEDUA: Baginda Rasulullah 'Alaihi Shalawatu Wa Salam bersabda :

إن أُمِّر عليكم عبدٌ مُجدَّعٌ أسودُ ، يقودُكم بكتاب اللهِ تعالى ، فاسمَعوا له وأَطيعوا " .

“ Jika kalian di pimpin oleh seorang hamba sahaya yang hitam berambut keriting, yang memimpin kalian DENGAN KITAB ALLAH, maka taatlah kepadanya ".

( ini hadits shahih riwayat Imam Muslim )

Perhatikan hadits ini dengan cermat. kata Rasulullah, “Maka Taatlah kalian selama ia memimpin dengan KITABULLAH !! sekali lagi: DENGAN KITABULLAH. nah, inilah hadits yang menjelaskan (atau tafsir) dari hadits yang sering mereka nukil diatas. harusnya di korelasikan dalil-dalil yang ada, jangan ambil separoh-separoh. hancur agama ini jika cara mereka beristidlal seperti itu.

Pertanyaan saya, apakah sama pemimpin yang memimpin berdasarkan KITABULLAH, dengan pemimpin yang memimpin berdasarkan UNDANG-UNDANG SEKULER ? Apalagi Undang-undang sekuler itu dijadikan asas tunggal dan ideologi bangsa !? CATAT ya, kita tidak sedang membahas orang-orang yang ada di parlemen, DPR-MPR itu kafir atau tidak.. Bukan. Itu hak dan wewenang para ulama yang kredibel dan berkompeten. bukan hak orang-orang awam seperti kita.Yang kita bahas sekarang adalah hukumnya, undang-undangnya. yang mana, mau tidak mau kita harus akui bahwa undang-undang yang ada saat ini bukanlah undang-undang ISLAM.

KETIGA: Dalam batas syari’at, ada dua poin penting yang sering di sembunyikan oleh kaum mulukiyyun (penjilat penguasa) ini, yaitu: 1. Ketaatan mutlak itu hanya berlaku untuk Allah dan Rasul-Nya; sehingga kepada Ulil Amri/pemerintah yang berhukum pada Syariat pun, ketaatan itu sifatnya terbatas (tidak mutlak); 2. Memberikan hak ketaatan mutlak (sekalipun harta kita diambil, punggung kita dipukuli) kepada orang-orang sekuler, anti Syariat atau menolak Syariat. ini tentu sangat MUSTAHIL. tidak mungkin Allah Ta’ala memberikan hak istimewa kepada kepemimpinan yang menentang-Nya dan menentang Rasul-Nya.

Dalilnya, Nabi bersabda:

إنَّ هذا الأمرَ في قريشٍ ، لا يُعاديهم أحدٌ إلا كبَّه اللهُ على وجهِه ، ما أقاموا الدينَ

“ Sesungguhnya urusan ini (kepemimpinan kaum muslimin) adalah dari Quraisy, tidak ada seorangpun yang menentangnya kecuali akan di campakkan oleh Allah wajahnya di neraka, selama MEREKA MEMIMPIN DENGAN MENEGAKKAN DIN”.

( Ini hadits Shahih riwayat Imam Bukhari dari sahabat Muawiyyah Bin Abi Sufyan Radhiyallahu'anhuma )

Perhatikan: kata Rasulullah, meskipun yang memimpin adalah kaum Quraisy, maka WAJIB MENTAATAINYA selama MEREKA MENEGAKKAN DIN (AGAMA) ! sekali lagi: selama mereka menegakkan din. Dari sabda Nabi ini sangat jelas bagi orang-orang berakal bahwa SYARAT MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMIMPIN, ITU TIDAK BERSIFAT MUTLAK. Ini sudah terlalu capek kami bahas berulang-ulang. mereka saja hanya muter-muter disitu.

Oleh karenanya, menjadikan dua hadits diatas sebagai dalil untuk “mendengar dan taat” kepada kepemimpinan NON ISLAMI (tidak berlandaskan Al-Qur’an & As-Sunnah), ini adalah pengkhianatan besar kepada Allah, Rasul, dan Syari’at-Nya. Sejak kapan para MUWAHHIDIN (AHLI TAUHID SEJATI) diperintah tunduk kepada kepemimpinan Non Syariat? Sekajak kapan? mana dalilnya? mana praktek Salaf terhadapnya.?

KEEMPAT: Dalam hadits ke-dua diatas, ada kata “laa yahtaduna bi hadyi” (mereka berpetunjuk tidak dengan petunjukku) dan “laa yastanuna bi sunnati” (mereka bersunnah tidak dengan Sunnahku). Kata-kata ini TIDAK BERMAKNA SECARA MUTLAK MEREKA MENINGGALKAN SYARI’AT. tapi bermakna, mereka melakukan bid'ah. Karena di sana ada kata "yahtaduna" (berpetunjuk) dan "yastanuna" (bersunnah); artinya mereka masih menetapi PETUNJUK dan SUNNAH, namun tidak sesuai dengan apa yang Nabi  lakukan/contohkan. Kalau mereka benar-benar meninggalkan Syariat, tentunya Nabi memakai kalimat “yakfuruna bi ayatillah wa sunnati nabiyih” (mereka kufur atas ayat Allah dan Rasul-Nya).

Kemudian di sana juga ada kata AL-AMIR (pakai alif lam ma’rifat sebagai bentuk mu’ayyan) yang artinya pemimpin. yang mana kata “Al-Amir” disini maknanya khusus, tidak umum. Artinya, itu kepemimpinan ISLAM, yang dibatasi hukum Syariat; karena asal kepemimpinan dalam Islam adalah TAAT SYARIAT. Di sana juga ada kata “as sam'u wat tho'ah”. yang mana kata-kata seperti ini dalam Al-Qur'an sering disebut “sami'na wa atho'na”. Kata-kata ini adalah KHAS KETAATAN kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak berlaku bagi yang lain. Karena ia mengandung konsekuensi IMAN, seperti yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 285. Kata-kata ini HARAM dikeluarkan dari jalur KEIMANAN.

KELIMA: Setelah kita menjama'kan (mengkorelasikan) hadits-hadits tentang wajibnya mendengar dan taat pada ULIL AMRI, maka kembalikan pemahaman tentang Ulil Amri itu kepada para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Artinya, baca dan lihat penjelasan para Ulama dan Imam-imam Ahlus Sunnah terkait makna Ulil Amri dan penjelasan mereka tentang siapa dan bagaimana Ulil Amri itu. Sehingga tidak MAIN COMOT.

1=> Didalam kitab fathul qadir 1/556, Imam Syaukani Rahimahullah mengatakan:

والأولى الأمر : هم الأئمة والسلاطين، والقضاة وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية

“Ulil Amri adalah para imam, penguasa, hakim, dan semua orang yang memiliki kekuasaan yang Syar'i (yakni sesuai syariat) bukan kekuasaan Thoghut”.

2=> Dalam kitab Majmu' Fatawa wa Maqolatun Mutanawwi'ah 1/ 117 cetakan Daarul Qasim lin Nasyr-Riyadh, Syaikh Bin Baz Rahimahullah mengatakan :

لأنه ليس كل حاكم يكون عالما يصح منه الإجتهاد، كما أنه ليس كل حاكم سواء كان ملكاً أو رءيس جمهورية يسمي أمير المؤمنين، وإنما أمير المؤمنين من يحكم بينهم بشرع الله ويلزمهم به، ويمنعهم من مخالفته، هذا هو المعلوم بين علماء الإسلام والمعروف بينهم.

“...Karena tidaklah setiap pemimpin di namakan seorang alim yang sehingga dibenarkan ia berijtihad, sebagaimana tidaklah setiap pemimpin, baik itu kedudukannya sebagai raja atau presiden di namakan "AMIRUL MUKMININ" (Ulil Amri), karena yang di namakan "AMIRUL MUKMININ (Ulil Amri) hanyalah seseorang yang berhukum di antara rakyatnya dengan SYARI’AT ALLAH dan mengharuskan mereka atas itu, dan melarang mereka untuk menyelisihinya. Inilah yang telah di ketahui di antara Ulama Islam dan di kenal di kalangan mereka”.

-selesai-

Ini kata Syaikh Bin Baz, bukan kata Habib Rizieq Shihab.

MANHAJ MULUKIYYAH/MURJI-AH adalah manhaj main comot yang penting aman. asal sudah jadi pemimpin, berkuasa, dengan cara apapun, maka ia langsung dianggap Ulil Amri dan wajib mendengar serta mentaatinya. sebagaimana ‘fatwa’ Ibrahim Ar-Ruhaili. Kalau begitu, kafir belanda yang menguasai indonesia selama 350 tahun (dalam jajahannya), antum anggap Ulil Amri dong ??!! Sehingga konsekuensi logisnya -dari buah fikir sungsang seperti ini- para pahlawan kemerdekaan itu “khawarij” semua..!!??

Demikian pula Israel Yahudi yang sampai detik ini menguasai palestina (dalam jajahannya), di anggap Ulil Amri dong? Karena mereka berkuasa disana.. , sehingga konsekuensi logisnya -dari buah fikir prematur ini- Mujahidin Hamas dan semua pejuang kemerdekaan palestina itu “khawarij” semua !!???

Wallahul musta’an. Semoga Allah menyelematkan ummat ini dari kehinaan, kebodohan dan kesesatan pemikiran serta fitnah di akhir zaman. Nas’alullah al-‘afiyah wa salamah.

Menasehati Pemimpin Boleh Secara Terbuka, Tidak Mesti Sembunyi-sembunyi


Oleh: Maaher At-Thuwailibi

Sameeh.net - Kata mereka, haram mengkritik penguasa secara terang-terangan. menasehati penguasa (pemimpin) mesti sembunyi-sembunyi.

Dalilnya adalah Hadits yang di riwayatkan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah, riwayat Ahmad dalam kitab Musnadnya, dan riwayat Al Hakim dalam kitab Mustadraknya yang menyatakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah menyatakannya di depan umum dengan terang-terangan. Hendaklah ia memegang tangan penguasa itu (dan mengajaknya ke tempat tersembunyi). Maka bila penguasa itu mau mendengar nasehat tersebut, itulah memang yang diharapkan. Tetapi bila tidak mau mendengar nasehat itu, sungguh penasehat itu telah menunaikan apa yang diwajibkan atasnya”.

Inilah dalil yang sering dijadikan hujjah (argumentasi) bahwa tidak boleh menasehati penguasa di tempat umum yakni secara terang-terangan.

HADITS INI DHA’IF.

Silahkan baca kitab Adh-Dhu’afa’ Al-Kabir karya Al-Imam Al-‘Uqaili.

Sehingga gugurlah hujjah orang-orang yang mengatakan bahwa tidak boleh mengoreksi penguasa ditempat umum secara mutlak tanpa perincian (tafshil).

Muncul pertanyaan, apakah ketika dalil mengoreksi/mengkritisi penguasa di tempat umum itu dha'if (lemah), kemudian boleh mengoreksi penguasa dihadapan umum (secara terbuka)?

Jawabannya: BOLEH jika dapat mendatangkan maslahat.

Contoh kasus, Ahok penista agama dibiarkan oleh pengusa dan terkesan di lindungi. penista agama yang harusnya di penjara, justru terkesan di bela. melindungi penista agama adalah kezoliman yang bisa mengeluarkan pelakunya dari islam. Lalu, perwakilan ummat dari kalangan tokoh dan ulama pun mendatangi penguasa dengan cara yang terhormat, tetapi tidak di indahkan dan tidak mendatangkan maslahat buat ummat. Ulama dan ummat pun semakin marah dan kecewa karena agama mereka di hina, kitab suci mereka di nista. Akhirnya para ulama, tokoh ummat, dan aktivis dakwah secara bersamaan melakukan KRITIK TERBUKA terhadap pemerintah yang ada. menuntut keadilan atas penista agama. Mengkritik rezim penguasa lewat sarana yang ada; dengan pembentukan opini, lewat medsos, ceramah-ceramah, tabligh akbar, seminar, tulisan-tulisan, aksi-aksi damai, dst. Akhirnya, pemerintah pun sedikit mulai peduli dengan SUARA UMMAT. setidaknya si penista agama di periksa, di adili, dst. tentu mendatangkan maslahat to ? Maslahat lainnya adalah, ummat menjadi sadar akan pentingnya persatuan dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan. Dalam kasus-kasus besar dan urgent seperti ini maka BOLEH MENGOREKSI ATAU MENGKRITISI PEMERINTAH SECARA TERBUKA selama hal itu dapat mendatangkan maslahat. Bahkan termasuk JIHAD YANG PALING AFDHOL.

Adakah dalil shahih yang membolehkan hal tersebut?

Jawabannya, ADA. dalilnya adalah Sabda Rasulullah ‘alaihi shalawatu wa salam:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

”Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil (yang haq) kepada penguasa (sulthan) yang zalim.”

(HR Abu Dawud 4346, Tirmidzi no 2265, dan Ibnu Majah no 4011).

Dalil ini mutlak, artinya di syari’atkan mengkritik pengusa yakni tanpa menyebut batasan tertentu mengenai caranya, apakah secara terbuka atau tertutup. Maka boleh hukumnya mengkritik penguasa secara terbuka, berdasarkan kemutlakan dalil tersebut, sesuai kaidah ushuliyah yang berbunyi: “al-ithlaq yajri ‘ala ithlaqihi maa lam yarid dalilun yadullu ‘ala taqyiid” (dalil mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan batasan/syarat yang mengikatnya).

Intinya, menasehati atau mengkritik penguasa itu memang HARUS DENGAN MA’RUF, SANTUN,  DAN BERADAB. karena memang demikian hukum asal dalam amar ma’ruf (menyampaikan kebenaran); baik kepada penguasa (umaro’) atau bukan. Hukum asal memberi nasehat adalah dengan cara ma’ruf. tetapi tidak berarti ada batasan syar’i harus sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. segala sesuatunya di kembalikan kepada kondisi dan ditimbang mashlahat dan madharrat. sedangkan maslahat-madharrat ini kaitannya untuk kepentingan ummat secara menyeluruh, bukan untuk kepentingan satu kelompok saja atau kalangan tertentu saja.

Menasihati/mengkritik penguasa (baik secara sembunyi atau terbuka) bukan soal salah benarnya, tetapi soal efektifitas. sebagaimana yang di katakan oleh Syaikh Utsaimin Rahimahullah. Bisa jadi ada penguasa yang hanya bisa dirubah kezhalimannya dengan tekanan moral dan mental dari rakyatnya sehingga cara ini lebih efektif, dan ada model penguasa (pemerintah) yang bisa dirubah dengan cara tertutup, di nasihati oleh orang terdekatnya secara rahasia misalnya, dst.

TETAPI, TIDAK ADA SATUPUN ulama Ahlus Sunnah yang mengatakan bahwa mengkritik penguasa secara terbuka adalah bentuk pemberontakan bahkan khawarij. sampai-sampai di samakan dengan aksi-aksi bakar diri. Ini adalah pengertian yang amat jauh dan sangat di paksakan. doktrin ngawur yang membodohi ummat secara massal. menasehati/mengkritik penguasa dan mengingkari penguasa BUKAN BERARTI NGAJAK MEMBERONTAK. karena memberontak penguasa (revolusi) ini memiliki syarat yang sangat ketat didalam syari’at yang mulia ini. mengingkari penguasa dengan ma’ruf adalah manhaj Ahlus Sunnah. bukan dengan bakar-bakar diri dihadapan publik. jadi anda tidak perlu lebay; nasehat kepada penguasa anda samakan dengan pemberontakan dan aksi bakar diri. tidak usah membodohi ummat dengan retorika usang yang demikian konyol.

Kalangan yang memvonis bahwa mengkritik penguasa hukumnya haram secara terbuka adalah TREND kelompok mulukiyyah (sekte murji’ah modern yang memang dipelihara oleh penguasa). sejatinya, mereka tidak terima di anggap mulukiyyah, tetapi begitu gampang memvonis kalangan lain dengan “khawarij”, “hizbi”, “takfiri”, dst. Wal-‘Iyaadzubillah. Sedangkan Ahlus Sunnah menimbang segala sesuatunya dengan timbangan syariat yang bersumber dari dalil naqli dan aqli. bukan dengan kepentingan kelompok (hizbiyyah) dan hawa nafsu. Wallahu A’lam bis Shawab.

Saatnya mencerdaskan ummat dengan teladan salaf, mari bangkit dari kebodohan dan taqlid buta yang membinasakan.

Wallahu A'lam.

Umat Islam Dari Luar Jakarta Terus Memadati Monas


KIBLAT.NET, Jakarta – Ribuan umat Islam dari luar Jakarta terus bergerak menuju kawasan Monas untuk mengikut Aksi Bela Islam III. Berbagai moda transportasi umum mereka gunakan, salah satunya kereta api.

Pantuan Kiblat.net, ribuan massa dari terlihat mengalir dari Stasiun Juanda, Jakarta, sejak pukul 07.30 WIB. Mereka mengantre menyebrang jembatan juanda ke arah Masjid Istiqlal.

Umat muslim tersebut datang dari berbagai daerah seputaran Jakarta, Tanggerang, Bekasi dan Bogor.

“Iya kita baru nyampe bang, rencana mau ke Istiqlal baru ke Monas,” ungkap Rizal dari Bekasi yang mengikuti rombongan.

Dengan membawa bedera hitam lafadz syahadat, rombongan kaum muslimin tersebut terus memekikan takbir di sepanjang jalan menyembrangi Jembatan Juanda.

Sementara itu, umat Islam dari luar Jabodetabek telah tiba di Jakarta sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari. Mereka menginap di masjid-masjid sekitar kawasan Monas. Sebagian langsung menuju Monas dan menggelar sajadah.

Cuaca di kawasan Monas terpantau mendung tipis. Sinar matahari tidak menyentuh massa umat Islam. Umat Islam duduk rapi berbaris menunggu Aksi Bela Islam III dimulai.

Reporter: Ahmad Sutedjo
Editor: Hunef Ibrahim

Persatuan Kebun 'Binatang', Benarkah?


Oleh: Deny Suwarja

Sameeh.net - Tadinya tidak terpikirkan,ikut menjemput dan mengawal para peserta long march Ciamis-Jakarta di Malangbong.  Saat ada keperluan di Cibatu, pukul 15.40 WIB membaca  update info rombongan dari salah seorang peserta. Bahwa, rombongan sudah tiba di mesjid Agung Malangbong.  Tertarik dan panggilan hati, ingin memberi dukungan moril kepada mereka.

Via Sasakbeusi, menuju Malangbong.  Perasaan dan hati dibuat bangga dan sejuk. Betapa tidak, di sepanjang tepi jalan tampak masyarakat berkerumun  di setiap sudut.  Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-kakek, nenek-nenek semua bersiap menyambut, lengkap dengan makanan dan minuman bahkan buah-buahan.

Di Lewo, berhenti sejenak. Mendekati kerumunan itu dan memasang kamera kecil.  Saat ditanya mengapa mereka melakukan hal itu? Jawaban mereka:”Lillahita’ala, demi Allah, demi agama kami, demi  membela Al  Quran yang telah dinistakan”.  
“Ini murni dari hamba Allah, bukan dari partai politik yang dituduhkan si penista! Kami tidak bisa ikut long march. Tapi, kami ingin mendukung mereka. Tukang tahu, menyumbang tahu. Tukang emplod, tukang tempe, tukang kerupuk, tukang roti, tukang bala-bala. Bapak lihat sendiri, ini di depan. Semua sumbangan sukarela. Ikhlas, gak ada yang membayar!”, jawab mereka. 

Subhanallah. Bulu kuduk merinding, ada yang tersekat di tenggorokan.  Mereka rakyat biasa, begitu rela berkorban. Demi keyakinan dan keimanan mereka yang diinjak-injak dan dinistakan.  Mereka rela berkorban dan sudah berdiri di sana, lebih kurang 1,5 jam. Padahal rombongan long march, baru tiba di mesjid Agung Malangbong dan rehat dengan sholat magrib.  Perjalanan baru akan dilanjut bada sholat Magrib.

Tiba di mesjid Agung Malangbong, suasana seperti malam takbiran.  Setiap melewati kerumunan orang-orang gema takbir dan kepalan tangan terangkat selalu terucap. Tegas tanpa rasa ragu. Tampak beberapa ada yang makan nasi bungkus berdua, bahkan ada yang bertiga sambil duduk bersandar ke tembok.  Belakangan mendapat informasi dari koordinator konsumsi, bahwa makanan, snack, ari kemasan, obat-obatan lebih dari cukup sumbangan sukarela dari masyarakat yang terlewati rombongan. Yang kurang adalah  untuk nasi bungkus/box.  Untuk nasi bungkus/box sering mengalami keterlambatan karena langsung didrop dari pesantren di Ciamis!!!  Namun peserta tidak mengeluh, saat di Malangbong mendapatkan sumbangan 300 nasi bungkus dari masyarakat setempat. Mereka rela berbagi dengan teman-temannya! Subhanallah!

Untuk makanan kemasan seperti biskuit atau roti dan air kemasan lebih dari cukup. Bahkan, mobil feeding kewalahan untuk mengangkut semua itu. Alternatifnya koordinator konsumsi harus mendatangakan truk dump truck yang besar, untuk mengangkut semua konsumsi yang disediakan masyarakat sepanjang Ciamis-Malangbong. Pastinya akan terus bertambahan selama perjalanan ke Jakarta. Yang mengiris hatis diantara makanan kemasan tampak juga makanan tradisional seperti cuhcur, ali agreg, burayot, rangginang, emplod, ladu, bahkan air kopi panas yang dimasukan plastik ada di sana!  Yang pasti semua makanan tradisional tersebut diolah olah rakyat kebanyakan, rakyat miskin, rakyat yang tidak rela kitab sucinya dihina dan ingin membela dengan cara mereka.

Kumandang adzan magrib bergema! Wajah-wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa lelah tapi dengan sorot mata penuh semangat itu langsung mengambil air wudhu.  Tidak sampai 2 menit, kerumunan jemaah lebih dari 2000 orang tersebut (plus mukimin). Langsung berbanjar rapi. Tanpa harus berteriak-teriak ala polisi yang kemarin sempat melarang mereka PO bus agar tidak menyewakan bus kepada mereka. Mereka tertib rapih, merapatkan barisan menghadap kiblat, rapi makmum hanya sesaat setelah mendengar suara iqamat.

Selama sholat, tidak terasa mata basah. Alhamdulillah, bisa ikut berjamaah bersama mereka. Terasa atmosfer ghirah izzatul Islam yang kental. Khusu dan penuh kesyahduan. Setelah membaca salam, air mata makin basah saat para santri tersebut bersalaman sambil mencium tangan saya penuh hormat. Padahal saya tidak mengenal mereka. Mereka tidak mengenal saya. Akhlak mereka begitu santun, saat melewati orang yang lebih tua mereka berjalan membungkuk, merendahkan tubuhnya dengan posisi tangan lurus ke bawah menyentuh lutut. 

Hujan turun gerimis saat meninggalkan mesjid Agung Limbangan, agar dapat mengambil gambar yang bagus.  Lebih kurang 6 km dari alun-alun Malangbong, berhenti di sebuah warung untuk menyantap mie sambil menunggu rombongan, buang air kecil dan ngopi. “Paling perkiraan memakan waktu satu jam dari Malangbong ke sini!” kata si Bapak pemilik warung. “Bapak yakin? Saya perkirakan paling 30 menit. Kan hanya 6 km!” bantah saya. Tapi, saya dan istri dibuat terpelongo belum lima belas menit duduk sambil menikmat mie rebus. Tiba-tiba dari arah timur mobil polisi yang mengawal sudah tiba. Polisi memberlakukan jalur satu arah.

Kendaraan dari arah Malangbong diminta menepi. 
Tidak sampai lima menit kemudian, dalam guyuran hujan yang makin deras. Tampak rombongan muncul dari arah Malangbong! Hanya 20 menit! Mereka bertakbir, bersholawat menembus hujan dengan hanya berlapiskan jas hujan plastik keresek. Beriringan, sebagian ada yang berpegangan tangan, sebagian ada yang membawa tongkat. Sebagian ada yang menggandeng temannya. Tidak henti, mobil ambulan dan mobil evak yang mengikuti rombongan. Memberikan pengarahan kepada para peserta yang sudah tidak kuat berjalan jangan memaksakan, silakan naik mobil  yang kedua lampu daruratnya menyala. Tapi yang minta dievak bisa dihitung dengan jari. Mayoritas mereka tetap berjalan, bahkan ada yang setengah berlari menembus hujan deras.

Menuju ke Warung Bandrek,Kersamanah di sepanjang jalan tampak masyarakat menyemut. Lebih heboh daripada tadi sore saat mereka menunggu rombongan.  Makanan dan minuman yang disediakan mereka makin banyak. Seorang nenek, berdiri di antara kerumunan masyarakat. Di tangannya tampak dia memegang sebungkus emplod (makanan khas lewo dari singkong). Seorang Bapak sibuk, menyeduh kopi panas di gelas plastik dan memberikan dengan penuh kasih sayang serta doa kepada setiap peserta yang melewatinya!

Suasana sangat Islami, tulus, ihlas dan ukhuwah Islamiyah.  Berkali-kali saya dan istri menyeka air mata saat menyaksikan mereka di sepanjang perjalanan.  Allahu Akbar!
Ya Allah, saksikanlah kami ridho Engkau menjadi Tuhan kami.  Kami ridho Islam menjadi agama kami. Kami ridho Nabi Muhammad S.A.W. menjadi Rosul kami, kami rela Al Quran menjadi kitab suci kami! Jauhkan kami dari orang-orang munafik, yang lebih ridho kaum kafir jadi pemimpinnya dan menyangkal kebenaran.

Jadi, silahkan pembaca simpulkan sendiri. Siapa sebenarnya persatuan Kebun Binatang seperti yang mereka tuduhkan (red).